Apabila kita menanyakan kepada seseorang, mengapa mereka terlahir, mereka pasti akan menemui kesulitan dalam menjawabnya karena mereka tenggelam di dalam dunia indra dan tenggelam dalam keberadaan. Seperti halnya ketika kita memiliki kebun apel yang sangat kita sukai. Ini adalah keberadaan untuk kita jika kita tidak bercermin pada kebijaksanaan. Mengapa demikian? Bagaimana mungkin, bila di dalam kebun itu ada ratusan pohon dan kita telah merasakan kepemilikannya, sebagai pohon kita. Kita menjadi terlahir sebagai seekor ulat yang berada pada setiap batang ohon, dan kita akan bertahan di dalamnya. Walaupun tubuh manusia kita masih bisa kembali pulang ke rumah, kita mengiriman sungut kita ke setiap batang pohon tersebut.
Ini adalah suatu keberadaan oleh karena kemelekatan kita akan gagasan bahwa pohon-pohon itu adalah milik kita, bahwa kebun itu adalah kepunyaan kita sendiri. Jika ada orang yang mengampak pohon-pohon itu, kita akan mati bersama pohon itu pula. Kita menjadi marah dan memperhitungkannya dengan orang itu. Pertengkaran pun timbul. Kita terlahir tepat pada saat kita menganggap segala sesuatu sebagai milik kita, lahir dari keberadaan itu. Walaupun jika kita memiliki ribuan pohon apel, jika ada orang yang memotong sebatang di antaranya, ibarat memotong pemiliknya. Dimana pun kita melekat, kita akan terlahir disana, kita muncul tepat di sana. ( A tree in a forest)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar