![]() |
| Bani Rifa Gustiza, Lahir 17 Agustus: Melihat Masalah Sekitarnya! |
Masalah adalah bagian dari kehidupan. Masalah telah membuat kita dapat hidup dan bekerja dan/atau bertahan di dalam sebuah kehidupan. Kepemimpinan seseorang juga dimulai dari bagaimana seseorang menyikapi masalah. Itulah dikenal dengan paradigma terhadap masalah. Apakah masalah adalah masalah, dalam artian merupakan bahaya atau peluang baru. Jawabannya akan kembali kepada kita masing-masing, memandang masalah itu. Paradigma Masalah.
Terlahir di dalam masalah, hidup penuh dengan masalah, sampai pada meninggalkan masalah ketika diakhir kehidupan kita kelak. Meneropong masalah, menghadapi dan menyelesaikannya adalah bagian dari kita masing-masing. Memulai dari mana, mau kemana, akan seperti apa penyelesaiannya. Itu adalah Paradigma Menghadapi Masalah. Hidup dan Masalah itu memiliki tiga hal mendasar: (1) mencari masalah; (2) menghindar dari masalah; dan (3) menghadapi masalah. Sementara dalam menghadapi masalah, ada tiga paradigma kita yang sering ditemui apabila kita cermati dengan kelompok atau seseorang di dalam menghadapi masalah:
1. Quitters
Quitters adalah orang yang memilih untuk keluar, menghindari masalah, mundur dan berhenti. Mereka menghentikan pendakian dan menolak kesempatan yang diberikan oleh gunung. Mereka mengabaikan, menutupi, atau meninggalkan dorongan inti manusiawi untuk mendaki menggapai ketinggian di puncak, dan dengan demikian juga meninggalkan banyak hal yang ditawarkan oleh kehidupan. Mereka ini akan selalu menggunakan kata-kata yang sifatnya membatasi. Mereka dengan cepat menyatakan bahwa sesuatu tidak bisa berjalan atau dilaksanakan. Mereka akrab dengan ucapan 'tidak mau' dan 'mustahil'.
2. Campers
Campers adalah orang-orang yang berkemah. Mereka pergi tidak seberapa jauh, lalu berkata, "sejauh ini sajalah kami bisa mendaki". Karena bosan, mereka mengkahiri pendakiannya dan mencari tempat yang nyaman sebagai tempat bersembunyi dari situasi yang kurang bersahabat. Mereka menganggap pencapaian mereka sebagai kesuksesan. Padahal pencapaian yang sebenarnya melibatkan pertumbuhan dan perbaikan seumur hidup pada diri seseorang. Mereka sangat akrab dengan kata-kata: "ini sudah cukup bagus"; "kita hanya perlu sampai disini saja".
3. Climbers
Climbers adalah orang yang menjalani hidupnya secara lengkap. Mereka mampu memahami tujuannya dan bisa merasakan gairahnya. Mereka mengetahui bagaimana perasaan gembira yang sesungguhnya, dan mengenalinya sebagai anugrah dan imbalan atas pendakian yang telah mereka lakukan. Climbers sering merasa sangat yakin pada sesuatu yang lebih besar daripada diri mereka. Keyakinan ini membuat mereka bertahan manakala puncak yang mereka akan taklukan terasa menakutkan dan sulit, serta setiap kali mereka mendapatkan tantangan hebat. Bahasa mereka penuh dengan kemungkinan-kemunmgkinan. Mereka berbicara tentang apa yang bisa dikerjakan dan bagaimana mengerjakannya. Mereka berbicara tentang tindakan-tindakan dan tidak sabar dengan kata-kata yang tidak didukung dengan perbuatan-perbuatan.
"Jangan pernah mengukur tinggi sebuah gunung sebelum Anda mencapai puncaknya. Karena begitu ada di puncak, Anda akan melihat betapa rendahnya gunung itu" (Dag Hammerskjold)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar