Jumat, 24 Mei 2013

The Relativity of Concepts

When I was in Solothurn, Switzerland
Term such as inner and outer, politics and psychology, and good and bad are relative to one another. What seems inner today will be outer tomorrow. What we call psychology is politics for someone else. Evil for one group is what another defines as good. In process work, term are considered meaningful because they describe experience, which is changeable, not because they are absolute truths. In The Meaning of Relativity, Alberts Einstein wrote, "The only justification for our concepts and system of concepts is that they serve to represent the complex of our experiences; beyond this they have no legitimacy". Concepts of culture, normal and abnormal, healthy and ill even the concepts of race, gender and age, are only concepts. They represent  the governing social paradigms. The very use of such terms can sustain the existing problems. Though we have employed them to create psychology, sociology and politics, these concepts are relative. When they are normative, they abuse people who feel they do not fit them. I introduced new concepts such as edges, time spirits and hot spots to include those experiences and individuals who are marginalized. 
Social relativity predicts that if all the abusive tyrants gave up their power, and all the freedom fighters came into power, very little would change. If all the oppressed were to move forward and the oppressors were to step down, chance are the world would not change in sustainable way. Why? Because one power was blindly replaced with another. Only when all members of community grow in awareness of power in themselves and others can true change occur. 
The world has seen countless revolutions. The cold war was won by democracy and capitalism. Yet these changes do not protect individual liberties or stimulate enough of us to participate in government. We are still unconscious of the day to day relativity of power and how it is used. It was the relativity of concepts.(Sitting in the Fire, Arnold Mindell)

Kamis, 23 Mei 2013

Memimpin Diri Sendiri

Bupati Aceh Tamiang H.Ahmdan Sati,ST
Memimpin Diri Sendiri berarti menjadi sutradara terhadap kehidupan diri kita sendiri. Jack Welch, seorang mantan CEO di GE pernah mengatakan, "Create Your Own Destiny or Someone Else Will". Ciptakan masa depan Anda sendiri, kalau tidak orang lainlah yang akan menciptakannya.
Dalam bahasa Stephen R. Covey, pengarah buku The 7 Habits of High Effective People, inilah yang disebut sebagai sikap yang proaktif. Inti dari proaktivitas adalah menyadari bahwa nasib sepenuhnya ada di tangan kita. Kitalah yang bertanggung jawab sepenuhnya atas segala sesuatu yang terjadi atas diri sendiri. Kitalah, bukan orang lain yang menjadi sutradara terhadap hidup diri kita sendiri masing-masing.
Orang yang proaktif, mengendalikan responnya sesuai dengan nilai-nilai yang dianutnya, sementara orang yang reaktif membiarkan hal-hal yang terjadi di luar mengendalikan dirinya. 

Model Reaktif  : STIMULUS --> RESPONS

Aiman Rifa Abhista

Apabila kita menanyakan kepada seseorang, mengapa mereka terlahir, mereka pasti akan menemui kesulitan dalam menjawabnya karena mereka tenggelam di dalam dunia indra dan tenggelam dalam keberadaan. Seperti halnya ketika kita memiliki kebun apel yang sangat kita sukai. Ini adalah keberadaan untuk kita jika kita tidak bercermin pada kebijaksanaan. Mengapa demikian? Bagaimana mungkin, bila di dalam kebun itu ada ratusan pohon dan kita telah merasakan kepemilikannya, sebagai pohon kita. Kita menjadi terlahir sebagai seekor ulat yang berada pada setiap batang ohon, dan kita akan bertahan di dalamnya. Walaupun tubuh manusia kita masih bisa kembali pulang ke rumah, kita mengiriman sungut kita ke setiap batang pohon tersebut. 
Ini adalah suatu keberadaan oleh karena kemelekatan kita akan gagasan bahwa pohon-pohon itu adalah milik kita, bahwa kebun itu adalah kepunyaan kita sendiri. Jika ada orang yang mengampak pohon-pohon itu, kita akan mati bersama pohon itu pula. Kita menjadi marah dan memperhitungkannya dengan orang itu. Pertengkaran pun timbul. Kita terlahir tepat pada saat kita menganggap segala sesuatu sebagai milik kita, lahir dari keberadaan itu. Walaupun jika kita memiliki ribuan pohon apel, jika ada orang yang memotong sebatang di antaranya, ibarat memotong pemiliknya. Dimana pun kita melekat, kita akan terlahir disana, kita muncul tepat di sana. ( A tree in a forest)

President of the World Cocoa Foundation visited Indonesia

President of World Cocoa Foundation-WCF, Mr. Bill Guyton and Virginia Sopyla have been visited cocoa area in Aceh facilitated and accompanied by Giri Arnawa. They were impressed during their visiting to know the potential of cocoa area and development in Indonesia.(Photo.Giri Arnawa)

Nutrition in Indonesia


Malnutrition and Fortification Issues


Indonesia is currently facing nutrition security and food safety problems. Although production of major food commodities, as well as rice as main staple food has grown, Indonesia is still strongly dependent on imports for some commodities. Approximately 25 million Indonesians consume less than 70% of the recommended dietary allowance of 2,000 kcal/capita/day.
The diet of Indonesians is also unbalanced, with a high contribution of rice and wheat to total energy intake. More than 100 million Indonesian peoples are currently face micronutrient deficiencies, including iron, vitamin A, and iodine deficiency.
Micronutrient insufficient is a contributing factor to morbidity and mortality rates of women and children. In Indonesia, according to national data that one out of every three children under the age of five suffers from malnutrition and one in every five is underweigh.
Children born with iron deficiency have been estimated to lose the potential of at least 10 IQ points compared to those born without iron deficiencies. Globally, at least 40 million children are affected by vitamin A deficiency which poses a Public Health risk or crisis, because the extent and health consequences of this micronutrient deficiency. 
The malnutrition problem is due to macronutrient deficiencies. At present Indonesia is also facing the so-called "hidden hunger" of micronutrient deficiencies. The major problems include vitamin A deficiency, iodine deficiency disorders, and iron deficiency anemia. More than 100 million Indonesians are affected by these problems (Departemen Kesehatan, 2008)
According to the World Bank (2006), a cost-effective strategy of food fortification is now available to control micro nutrient deficiencies. Indonesia has implemented a food fortification strategy. Reffereng on it, food fortification is a way to combating and preventing Public Health risk or crisis arising from micronutrient malnutrition. These key intervention strategies can be used to shift at-risk groups from a state of risk or crisis to a state of nutrient sufficiency and health.
Food fortification is the process by which a nutrient is added to a commonly eaten food to improve the quality of a population’s diet. It includes the addition of nutrients at levels higher than those found in the original or in comparable foods. The food that carries the nutrient is referred to as the food vehicle and the nutrient added is the fortificant. Food fortification is usually undertaken when there is a widespread and consistent nutritional deficit in the population's diet, and has been commonly used as a method to control micronutrient deficiencies.
Indonesia has implemented a food fortification strategy, particularly to control iodine deficiency disorders through a mandatory salt iodization program and iron deficiency anemia through mandatory wheat flour fortification with iron and folic acid (Soekirman, 2008). A pilot project of fortifying cooking oil with vitamin A has been undertaken as well (Martianto et al., 2008).
The most important which has been described above is how to initiate rice fortification become rice based nutrition for poor people, since rice as the main staple food of mostly population in Indonesia.

Rice in Indonesia context, from the research into the consumers served 





Rabu, 22 Mei 2013

Peraturan Perusahaan

Peraturan: mengatur tapi bisa diatur.
Peraturan seperti produk coklat yang 
bisa dibuat sesuai selera konsumen.
Ini cerita menarik, ketika suatu pagi dengan bangga dan gagah seorang officer di kantor, sudah biasa itu pasti dari bagian SDM atau kerennya dikenal dengan HR, Human Resource. Pagi mendatangi semua meja karyawan, sambil menyerahkan satu buku yang kalau dipikir, kegiatan sudah berjalan 3 tahun tetapi buku itu dengan sangat terpaksa baru bisa diberikan hari ini. Buku itu adalah Peraturan Perusahaan. Pada halaman depan tertera Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial dan Jaminan Sosial Tenaga Kerja. Menjelaskan tentang Pengesahan Peraturan Perusahaan. Peraturan mengatur prinsip manajemen, dimana tertulis manajemen berorientasi hasil yang berdasarkan tujuan yang jelas; budaya pembelajaran dan menciptakan peluang pengembangan profesional; komunikasi yang transparan; memimpin dengan memberi contoh; manajemen bersama untuk keuntungan semua orang; budaya pengambilan keputusan yang jelas dan tegas. 
Peraturan dalam posisi legal standing sering menempatkan karyawan bukan lagi sebagai suatu asset yang di dalamnya tersirat sebagai shareholders, sehingga mampu membangun ownership di dalamnya. Peraturan seringkali mengatur dan menempatkan karyawan sebagai objek dari peraturan, bukan lagi subjek suatu peraturan. Peraturan terlalu sering membawa suatu mainstream pembenaran sepihak dan menjadikan karyawan sebagai sub ordinatkan, bukan sub sistem dari sistem manajemen. Karyawan akan selalu berada pada posisi yang rentan menghadapi suatu kekuasaan. Teringat dengan bagaimana hukum di negeri ini, bagian dari produk kolonialisasi. Hukum menjadi panglima penguasa untuk mengatur proses kekuasaan yang sudah barang tentu harus menguntungkan penguasa dan kekuasaannya. 
Sebagai bagian dari orang yang terbiasa dengan community development, community empowerment, sungguh terasa bagaimana suatu peraturan hanya menjadi produk fisik semata, dikala peraturan itu tidak diteladani dengan baik. Mana ada manajemen bersama untuk keuntungan semua orang, yang muncul adalah menguntungkan masing-masing, terlebih lagi tidak dapat dipungkiri adanya office politic dalam proses pencapaian. Disana ada ambisi, ada obsesi untuk sekedar melanggengkan posisi serta mencari posisi. Disana ada safe player, ada sekedar atau asal bos senang (abs), disana ada ego, disana juga ada hanya sekedar kerja menggugurkan kewajiban. 
Kelemahan yang nampak dari suatu peraturan adalah ketika disusun maupun dihasilkan bukan melalui suatu proses konsensus maka yang ada sudah pasti hanya sebuah produk fisik, yang diharap memiliki nilai tetapi tidak bermakna sama sekali. Apa yang didapat dari suatu peraturan sebagai sebuah produk fisik, mubazir dan capek fisik. Belum lagi bentuk-bentuk keteladanan yang harus dijalankan, ketika munculnya ego, bukan menjadi produk kebersamaan, maka yang ada adalah mencari rasa aman di balik aturan fisik itu. Peraturan akan hadir menjadi produk inkonsistensi, karena keteladanan di dalamnya tidak didefinisikan lagi dalam keseharian. Contoh kecil, datang ke kantor melewati dari yang digariskan di peraturan, dan setiap hari dilakukan oleh unit yang semestinya memantau dan menegakkan paraturan ini. Munculah pembenaran, dan mengabaikan apa kepatuhan yang mesti diteladani. Nach loh, disitulah peraturan lebih ditempatkan sebagai aturan yang diajatkan untuk mengatur akan tetapi selanjutnya bisa diatur. Terus gue harus bilang loh gitu....!


Selasa, 21 Mei 2013

Paradigma Menghadapi Masalah

Bani Rifa Gustiza, Lahir 17 Agustus:
Melihat Masalah Sekitarnya!
Masalah adalah bagian dari kehidupan. Masalah telah membuat kita dapat hidup dan bekerja dan/atau bertahan di dalam sebuah kehidupan. Kepemimpinan seseorang juga dimulai dari bagaimana seseorang menyikapi masalah. Itulah dikenal dengan paradigma terhadap masalah. Apakah masalah adalah masalah, dalam artian merupakan bahaya atau peluang baru. Jawabannya akan kembali kepada kita masing-masing, memandang masalah itu. Paradigma Masalah. 
Terlahir di dalam masalah, hidup penuh dengan masalah, sampai pada meninggalkan masalah ketika diakhir kehidupan kita kelak. Meneropong masalah, menghadapi dan menyelesaikannya adalah bagian dari kita masing-masing. Memulai dari mana, mau kemana, akan seperti apa penyelesaiannya. Itu adalah Paradigma Menghadapi Masalah. Hidup dan Masalah itu memiliki tiga hal mendasar: (1) mencari masalah; (2) menghindar dari masalah; dan (3) menghadapi masalah. Sementara dalam menghadapi masalah, ada tiga paradigma kita yang sering ditemui apabila kita cermati dengan kelompok atau seseorang di dalam menghadapi masalah:

1. Quitters
Quitters adalah orang yang memilih untuk keluar, menghindari masalah, mundur dan berhenti. Mereka menghentikan pendakian dan menolak kesempatan yang diberikan oleh gunung. Mereka mengabaikan, menutupi, atau meninggalkan dorongan inti manusiawi untuk mendaki menggapai ketinggian di puncak, dan dengan demikian juga meninggalkan banyak hal yang ditawarkan oleh kehidupan. Mereka ini akan selalu menggunakan kata-kata yang sifatnya membatasi. Mereka dengan cepat menyatakan bahwa sesuatu tidak bisa berjalan atau dilaksanakan. Mereka akrab dengan ucapan 'tidak mau' dan 'mustahil'.
2. Campers
Campers adalah orang-orang yang berkemah. Mereka pergi tidak seberapa jauh, lalu berkata, "sejauh ini sajalah kami bisa mendaki". Karena bosan, mereka mengkahiri pendakiannya dan mencari tempat yang nyaman sebagai tempat bersembunyi dari situasi yang kurang bersahabat. Mereka menganggap pencapaian mereka sebagai kesuksesan. Padahal pencapaian yang sebenarnya melibatkan pertumbuhan dan perbaikan seumur hidup pada diri seseorang. Mereka sangat akrab dengan kata-kata: "ini sudah cukup bagus"; "kita hanya perlu sampai disini saja".
3. Climbers
Climbers adalah orang yang menjalani hidupnya secara lengkap. Mereka mampu memahami tujuannya dan bisa merasakan gairahnya. Mereka mengetahui bagaimana perasaan gembira yang sesungguhnya, dan mengenalinya sebagai anugrah dan imbalan atas pendakian yang telah mereka lakukan. Climbers sering merasa sangat yakin pada sesuatu yang lebih besar daripada diri mereka. Keyakinan ini membuat mereka bertahan manakala puncak yang mereka akan taklukan terasa menakutkan dan sulit, serta setiap kali mereka mendapatkan tantangan hebat. Bahasa mereka penuh dengan kemungkinan-kemunmgkinan. Mereka berbicara tentang apa yang bisa dikerjakan dan bagaimana mengerjakannya. Mereka berbicara tentang tindakan-tindakan dan tidak sabar dengan kata-kata yang tidak didukung dengan perbuatan-perbuatan.

"Jangan pernah mengukur tinggi sebuah gunung sebelum Anda mencapai puncaknya. Karena begitu ada di puncak, Anda akan melihat betapa rendahnya gunung itu" (Dag Hammerskjold)

Belajar Mengenal Laba-Laba

Laba-Laba (1)
Bersama Stephan Muller dan Marianne Sinner 

di Basel Switzerland:mereka adalah bagian keluarga.
Memulai dari satu titik, menebar 'rantai' jejaring, kemudian dia menjadi survive dihadapannya. Upaya, kerja kerasnya, membangun kehidupan tidak mengenal menyerah. Dia hanya mampu berusaha dan berusaha, dari titik pijakan ke pijakan yang lain, menguatkan rangkaian jejaringnya, mengutuhkannya, merangkai semua menjadi rumah kehidupan. 
Itulah Jejaring Laba-Laba. Dia bangun, dia kokohkan, dia mampukan, dia pelihara dan dia rawat dengan seksama sepanjang hari. Selanjutnya dia gunakan untuk menjadi survive di dalam keganasan kehidupan sekitar. Dia bertahan dan dia tidak ganas, seperti asumsi dan perilaku sekitarnya. 
Memangsa dan/atau dimangsa, bukanlah prinsif ketika dia mencoba untuk bertahan melawan keadaan. Jejaring itu dia gunakan memahami hidup dan kehidupannya. Bahwa, semakin melebar, semakin meluas, semakin menjauh, semakin menguat, semakin diperhatikan dan semakin dipelihara. Disitulah dia mendapatkan kesempatan hidup dan kehidupan yang lebih berguna. Dia pusatkan dirinya di titik sentral kehidupan sekitar jejaringnya, dia memulai pergerakan kesehariannya dari titik sentral kehidupan. Dia selalu berada di tengah-tengah kehangatan jejaring yang dia bangun secara utuh untuk mampu menjalani hidup dan kehidupannya. Dalam jejaring itu, dia mampu hidup dan berkembang mengisi dirinya, berada dan menjadi bagian dari kehidupan alam sekitar. Ketika lalat atau binatang lain mencoba menyerah, sarang yang dibangun, dia sudah barang tentu menghindar dari pusat jejaringnya, kemudian memangsa binatang yang terperangkap di pusaran itu.
Menjadi sangat mustahil, apabila asumsi sekitar mengungkap bahwa dia ganas ketika diusik sarangnya. Apakah ada kebenaran ketika dia memulai berangkat dengan nawaitu 'membangun kehidupan' dengan membuat jejaring. Ketika kita mampu belajar dari realitas alam seperti itu, maka makna hidup dan kehidupan, menjadi begitu tinggi. (to be continue)

Cacao Fabriek De Zaan Amsterdam


Kesempatan tidak akan pernah datang mengunjungi kita untuk kedua kali. Kesempatan pertama, adalah rasa yang tidak akan sama nikmatnya dengan kesempatan kedua, ketiga dan seterusnya. Mempergunakan kesempatan adalah bagian dari cara kita memperbesar horizon kehidupan. Jangan pernah mengecilkan kesempatan, karena disitulah jalan menuju gerbang hidup dengan halaman luas dan lebar. Hanya kesempatan, saat belajar di ADM Cocoa Factory di Amsterdam, disitu ada Roy, seorang Food Specialist, ada Michiel Hendrikz, Director Sustainability ADM Cocoa.

Menanti Malam


Sebuah kehidupan, mengalir menggapai malam, menuju pagi, mencari siang, mengunduh sore menanti malam kembali. Dia menjadi bagian yang tidak bisa dihentikan, dimundurkan dan dimajukan. Kita hanya mampu menjalani, menikmati, merasakan. Suka dan Duka, menjadi noktah yang juga selalu menyertainya. Jangan pernah merasa kecil karenanya, dan jangan juga pernah merasa besar berada disekitarnya. Dia datang dan pergi, setiap hari. Kita rasakan, kita tapaki bersama, tanpa bisa menghentikan dan menahannya. Malam seperti detik jarum jam yang akan terdengar ketika kita benar ingin mendengarnya.
Ketika malam mulai merajuk, setiap kita akan terus dan terus mencoba melintasinya. Seperti tanpa kebosanan, berjalan menyongsongnya, berhenti sejenak mengeningkannya, mencoba dan mencoba merawat malam itu menjadi indah.